Hidup Sehat - Kesepian dan patah hati ternyata dapat mengganggu kesehatan jantung manusia. Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Journal of the American Heart Association menyebutkan bahwa kedua kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan perubahan emosional pasien, tetapi juga dapat menyebabkan gagal jantung.
Pasien yang mengalami kesepian atau terisolasi dari kehidupan sosial diklaim memiliki risiko gagal jantung yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hidup berdampingan. Secara tidak langsung, penelitian ini menghimbau agar semua orang menghindari rasa sepi untuk mendapatkan hidup yang lebih berkualitas dan terhindar dari risiko gagal jantung.
Para ahli telah melakukan survei kepada 1.681 pasien yang didiagnosis mengalami gagal jantung. Sekitar 6 persen di antaranya mengaku bahwa mereka terisolasi dari kehidupan sosial dan sulit menjalin hubungan dengan orang-orang baru.
Jika dibandingkan dengan pasien yang memiliki kehidupan sosial normal, tingkat kematian pada kelompok pasien kesepian jauh lebih tinggi sekira 3,7 kali, 1,7 kali lebih tinggi untuk di rawat di rumah sakit, dan 1,6 kali lebih tinggi untuk dilarikan ke ruang gawat darurat.
“Penelitian kami menemukan, perasaan kesepian atau terisolasi dapat berkontribusi terhadap prognosis buruk pada gagal jantung,” kata salah seorang peneliti senior, Lila Rutten, Ph.D, kepada American Heart Association.
Menurut data yang dilampirkan pada penelitian tersebut, lebih dari 6 juta penduduk Amerika Serikat hidup dengan kondisi gagal jantung, dan setiap tahunnya terdapat lebih dari 960.000 kasus baru. Penelitian terbaru juga menunjukkan, sekiranya seperempat pasien gagal jantung mengalami tingkat isolasi sosial pada kategori sedang sampai tinggi. Bahkan tingkat isolasi sosial yang moderat juga memicu terjadinya rawat jalan dalam jumlah besar.
Ini bukan pertama kalinya para ahli menghubungkan dampak kesepian dengan hasil kesehatan yang buruk. Menurut American Association of Retired Person (AARP) Loneliness Study, sekira 42,6 juta orang dewasa di atas usia 45 diklaim menderita kesepian kronis.
Tidak hanya itu, kesepian dan isolasi sosial sebenarnya bisa menimbulkan risiko kesehatan yang lebih besar dari hanya sekadar kasus obesitas. American Psychological Association (APA) pada 2017 lalu menyatakan, dampak dari kondisi tersebut akan jauh lebih parah di tahun-tahun mendatang.
Julianne Holt Lunstad, Ph.D, mempresentasikan penelitian tersebut dalam sebuah laporan. “Sekarang, banyak negara di seluruh dunia yang menyarankan kita untuk bersiap menghadapi sebuah kondisi yang disebut dengan istilah ‘epidemi kesepian’,” tuturnya.
Oleh karena itu, melakukan interaksi sosial secara luas dianggap sebagai kebutuhan dasar manusia dan penting untuk menciptakan kesejahteraan serta kelangsungan hidup.
“Penelitian Holt-Lunstad mengklaim kesepian adalah sebuah permasalahan besar, selain kasus kecanduan minuman beralkohol atau rokok,” ujar seorang perwakilan APA kepada The Daily Meal.
Studi ini juga menghasilkan sejumlah kabar baik. Menurut mereka, dengan melakukan skrining dini, permasalahan tersebut dapat segera ditindaklanjuti sehingga para pasien tidak akan sampai mengalami berbagai efek kesehatan yang berbahaya, terutama gagal jantung.
“Studi kami menunjukkan bahwa penting untuk menanyakan tentang perasaan para pasien dengan menggunakan alat skrining formal. Selain itu, ada pula langkah-langkah ampuh untuk mengurangi kondisi tersebut seperti bergabung dengan komunitas, atau kelompok pendukung pasien gagal jantung, serta strategi pribadi lainnya,” tukas Gregg C. Fonarow, co-chief of Cardiology.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar